Japanese Film Festival 2015


BUKANBIKIN, Jakarta – Japanese Film Festival 2015 perdana di Jakarta menayangkan 30 film live action dan animasi yang bervariasi, mulai dari kisah samurai di tempo dulu hingga animasi buatan studio Ghibli yang terkemuka.

Berikut adalah daftar film panjang beserta cuplikan resensi yang akan ditayangkan di Japanese Film Festival selama 26 November – 1 Desember 2015 di CGV blitz Grand Indonesia, Jakarta.

Samurai Chronicle (Kronik Seorang Samurai)

Film drama tempo dulu (jidai geki) berlatar belakang 200 tahun lalu mengisahkan samurai muda Danno Shozaburo (Okada Junichi) yang diperintahkan mengawasi Toda Shukoku (Yakusho Koji) seorang mantan pejabat wilayah yang diasingkan dan dijatuhi hukuman bunuh diri pada 10 tahun mendatang. Danno yang tinggal bersama Toda mulai mengetahui duduk perkara yang dialami Toda. Film yang disutradarai Koizumi Takashi ini meraih penghargaan dalam 10 kategori di Japan Academy Prize, seperti film, sutradara, aktor dan aktor pendukung.

The Kirishima Thing (Kirishima, Katanya Berhenti Ekskul)

Kehidupan dunia remaja para pelajar SMA digambarkan dalam film buatan Yoshida Daihachi. Suatu hari, Kirishima kepala tim putra ekskul bola voli berhenti dari kegiatannya dan hilang bagai ditelan bumi. Menghilangnya murid yang unggul di segala bidang serta memiliki pacar siswi terpopuler di sekolah mulai berdampak pada siswa-siswa yang hidup dalam hierarki tak terlihat. Film ini dibintangi oleh Kamiki Ryunosuke, Hashimoto Ai dan Ohgo Suzuka. “The Kirishima Thing” meraih penghargaan sutradara terbaik di Mainichi Film Awards serta penghargaan karya terbaik di Japan Academy Prize.

The Great Passage (Menyusun Kamus ‘Pelayaran Agung’)

Tokoh utama film yang disutradarai Ishii Yuya adalah pria yang memiliki kepekaan luar biasa terhadap bahasa. Majime Mitsuya (Matsuda Ryuhei) adalah editor eksentrik yang terpikat dalam penyusunan kamus. Film ini menggambarkan sulitnya menyusun sebuah kamus yang dikemas dalam sentuhan humor. “The Great Passage” meraih penghargaan dalam kategori film di Japan Academy Prize ke-37 dan menjadi wakil Jepang pada kategori film bahasa asing di The Academy Award.

The Complex (Rumah Susun Kuroyuri)

Dibuat oleh sutradara Nakata Hideo yang menelurkan film horor legendaris Jepang “The Ring”. “The Complex” mengangkat kisah Ninomiya Asuka (Maeda Atsuko), perempuan muda yang pindah ke rumah susun tua untuk mencari fakta di balik kasus kematian aneh. Namun, hal-hal menakutkan mulai terjadi padanya.

The Little House (Rumah Kecil)

Pada 1936, Taki (Kuroki Haru) yang berasal dari kampung tiba di Tokyo untuk bekerja sebagai pembantu di rumah modern beratap merah segitiga. Film besutan Yamada Yoji menggambarkan drama hubungan terlarang dalam kehidupan Tokyo pada era Perang Dunia II. Kuroki Haru meraih penghargaan aktris terbaik dalam Festival Film Internasional Berlin berkat perannya di “The Little House”.

The Pearls of the Stone Man (Menyusun Batu Cinta)

Drama kehidupan yang menggambarkan cinta dan keterikatan antara suami istri yang pindah ke Hokkaido untuk mencari kehidupan bahagia usai pensiun. Sutradara Asahara Yuzo menceritakan kebangkitan suami dari rasa putus asa berkat dukungan orang sekitarnya, termasuk sang istri.

Being Good (Anak Baik)

Sutradara O Mipo menyorot masalah sosial di Jepang saat ini, seperti kekerasan pada anak, kemerosotan disiplin di sekolah dan demensia. Film ini dibintangi oleh Kora Kengo, Ono Machiko, Ikewaki Chizuru, Takahashi Kazuya dan Tomita Yasuko.

Evangelion: 3.33 You Can (not) Redo

Animasi robot adalah genre inti yang tak bisa dipisahkan dari animasi Jepang, termasuk Evangelion. Ini adalah episode ketiga dari seri Rebuild of Evangelion yang merupakan versi film dari animasi televisi Neon Genesis Evangelion. Film ini meraih Excellence Prize dalam divisi animasi di Japan Media Arts Festival ke-17.

The Tale of The Princess Kaguya (Kisah Putri Kaguya)

Film animasi panjang keluaran Studio Ghibli ini disutradarai oleh Takahata Isao yang pernah menciptakan Hols: Prince of the Sun (1968) dan Grave of the Fireflies (1988). Animasi yang diangkat dari dongeng Jepang ini diproduksi selama delapan tahun dan menelan biaya sebesar 5 miliar yen. Di sini, Takahata memberi penafsiran baru tentang alasan putri yang lahir dari bambu akhirnya pulang ke bulan.

Giovanni’s Island (Pulau Giovanni)

Animasi yang disutradarai Nishikubo Mizuho melukiskan penderitaan anak laki-laki kakak beradik yang diangkat dari kisah nyata penyerbuan tentara Soviet di pulau Shikotan pasca Perang Dunia II.

Tamako Love Story (Kisah Cinta Tamako)

Sutradara Yamada Naoko bercerita tentang siswa SMA yang kurang tanggap soal cinta. Meski sudah duduk di bangku kelas 3, remaja putri ini hanya memikirkan kue beras. Ia ingin meneruskan usaha toko kue beras keluarga. Setelah melihat pertumbuhan teman-temannya, dia mulai memikirkan ulang mengenai masa depan dan kehidupan percintaan.

Tentang Bukan Bikin

Informasi, Trend, Inovatif
Pos ini dipublikasikan di Festivals & Events dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s