Kreatifitas Ku Hilang Setelah Jadi Guru Honor


BUKANBIKIN, Gie Gin – Sudah 2 tahun bekerja menjadi guru dengan status honor namun keadaan ekonomi justru makin memburuk. Hari-hari pertama ku lalui dengan penuh semangat kerja, dengan pengetahuan dari bangku kuliah yang ku lalui. Dengan harapan masa depan yang lebih baik, walaupun upah yang aku terima tidak sesuai dengan kebutuhan.

Suatu hari aku mendapat tugas pertama untuk rapat di luar sekolah, aku merasa senang. Di dalam undangan rapat tertera jam 09.00 pagi, aku pun datang lebih awal sekitar jam 08.45 pagi aku sudah berada ditempat. Namun di tempat rapat tersebut belum ada satu orang yang datang. Menit demi menit aku menunggu beberapa orang mulai berdatangan. Jam sudah menunjukkan pukul 09.30 panitia baru mulai membuka rapat, padahal di dalam undangan rapat mulai pukul 09.00. Namun yang lebih buruk lagi narasumber untuk rapat dari dinas Kabupaten datang jam 10.30. Mungkin ini yang disebut kedisiplinan pemerintah daerah.

Bulan ke-4 gaji ku sudah naik menjadi Rp 600.000, gaji ku yang sebelumnya Rp 300.000. Mungkin tidak bamyak orang yang sudah berpendidikan strata 1 (S1) digaji sekecil itu. Atau mungkin cuma di negeri Indonesia saja gaji guru yang mempunyai tugas untuk mencerdaskan bangsanya. Ini realitasnya dengan Upah Minimum Kota (umk) yang sudah mencapai Rp 2.000.000 namun upah bulanan cuma Rp 600.000.

Dua tahun mengajar komputer, aku dipindahkan menjadi operator. Alasan pemindahan ini karena komputer yang ada di sekolah banyak yang rusak karena tegangan listrik naik turun. Dan alasan lain adalah semakin banyak pekerjaan di operator.

Kalo anda berpikir jadi guru itu enak karena banyak tunjangan, pemikiran anda salah. Tidak semua guru honor seperti saya mendapat tunjangan. Aku bertanya kepada guru sekolah lain kok bisa mendapat tunjangan tersebut, apa syaratnya bisa mendapat tunjangan? Ternyata ada uang sogokannya alias aku harus membayar uang sebesar Rp 500.000 Ketua forum guru honor. Mungkin ini lah budaya pendidikan di Indonesia, kenapa saya sebut budaya? Karena hampir semua orang di Indonesia menilai sogok menyogok itu hal yang biasa.

Kejadian yang diatas masih awal cerita yang saya ketahui.

Tentang Bukan Bikin

Informasi, Trend, Inovatif
Pos ini dipublikasikan di Artikel dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s